Subud Symbol

-----

AZAS DAN TUJUAN SUBUD

Sekretariat Nasional PPK SUBUD Indonesia, 1991

-----

AZAS SUBUD

SUBUD adalah singkatan dari kata-kata : Susila Budhi Dharma.
Susila artinya : budi-pekerti manusia yang baik, sejalan dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa.
Budhi artinya : daya kekuatan diri pribadi yang ada pada diri manusia.
Dharma artinya : penyerahan, ketawakalan dan keikhlasan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Ini menjadi lambang diri manusia yang memiliki rasa-diri yang tenang dan jernih, dan yang mampu menerima kontak dari daya hidup yang maha besar dan suci.

TUJUAN SUBUD

Oleh karena latihan kejiwaan Subud itu terlepas daripada pengaruh nafsu kehendakan dan akal-fikiran dan benar-benar dibangkitkan oleh kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, maka tujuan Subud akan dengan sendirinya ke arah keutamaan budi-pekerti menurut kehendak yang membangkitkannya, yaitu : Tuhan Yang Maha Esa.

Juga perlu diterangkan bahwa Subud itu bukan semacam agama, dan juga bukan bersifat pelajaran, tetapi adalah sifat latihan kejiwaan yang dibangkitkan oleh kekuasan Tuhan ke arah kenyataan dalam kejiwaan, terlepas daripada pengaruh nafsu-kehendak dan akal-fikiran.

Oleh karenanya, maka dalam latihan kejiwaan Subud itu ternyata rasa diri seseorang benar-benar dirasakan sudah tidak lagi terpengaruh oleh nafsu-kehendakan dan akal-fikiran, yang artinya : dalam latihan kejiwaan Subud itu rasa-diri seseorang telah dipisahkan dari daya nafsu-kehendakan dan akal-fikiran.

Dan apa sebab hingga daya nafsu kehendakan dan akal-fikiran dipisahkan dari rasa-diri sedangkan ini bagi hidup manusia di dunia adalah alat peserta hidup manusia yang terutama, yang dapat digunakan untuk mempertinggi dan memperluas ilmu pengetahuannya? Karena dengan masih adanya daya nafsu-kehendakan dan akal-fikiran dalam rasa-diri dalam menerima latihan kejiwaan itu rasa-diri tidak akan berada dalam keadaan yang bersih, sehingga tidak mungkin mendapatkan kontak dari daya hidup yang besar dan yang sesungguhnya telah meliputi baik di dalam maupun di luar rasa-diri.

Oleh sebab yang demikian itulah maka karenanya daya nafsu kehendak dan akal-fikiran perlu dipisahkan dari rasa-diri, agar dengan keadaan yang demikian rasa-diri terbangkit dan dapat merasakan adanya aliran daya-daya hidup yang selalu mengalir dan membangkitkannya dan dapat kemudiannya diketahui mana yang baik dan mana yang tidak, artinya : mana yang dari daya manusia dan mana pula yang dari daya di bawah daya manusia yaitu : daya benda, daya tumbuh-tumbuhan, khewan dan jasmani.

Maka kenyataannya dalam menerima latihan kejiwaan Subud itu para saudara atau para pelatih benar-benar terbimbing oleh kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, yang hakekatnya agar para pelatih dapat memiliki ilmu pisah dalam kejiwaan, yang akhirnya hingga dapat mewujudkan kepribadiannya yang benar dan mana pula yang hanya dalam pengakuannya saja.

Ini dalam ilmu lahir (wetenschap) terhitung suatu ilmu yang terpenting. Karena dengan memiliki ilmu pisah orang dapat mewujudkan besi, timah dan lainnya dari suatu benda yang bersifat tanah. Juga dapat mewujudkan emas, perak dan lain-lainnya dari segumpal tanah. Hanya bedanya, yang tersebut belakangan ini adalah pekerjaan manusia yang dikerjakan dengan hati kehendakan dan akal-fikirannya, sedangkan yang tersebut di atas yaitu : ilmu pisah dalam kejiwaan, itu adalah pekerjaan Tuhan yang kekuatannya maha jauh dan maha melebihi kekuatan dan kemampuan kita manusia.

Sekianlah, maka kesungguhan bakti anak terhadap Tuhan Yang Maha Esa tidak perlu dikuatirkan oleh sebab sesuatu apa. Tuhan maha tahu dan maha bijaksana dalam segala hal.

Tuhan dapat berbuat dan mengadakan sesuatu yang tidak ada dan dapat memperbaiki sesuatu yang dipandang dari sudut akal-fikiran tidak mungkin menjadi baik.

-----

http://www.subud.com/bahasa